JAVA QAHWA COFFEE

Kopi, lebih dari dua dekade ini, menjadi salah satu produk pangan yang paling kompleks, dan makin membingungkan. Kopi, kini, bukan sekedar pemuas dahaga atau pemasok kafein, namun telah menjadi pertanda strata sosial. Jika anda masih mengonsumsi kopi "cepat saji" dan mudah diseduh, atau memperbincangkan kopi sebagai air hitam yang panas, manis, ...

Kopi, lebih dari dua dekade ini, menjadi salah satu produk pangan yang paling kompleks, dan makin membingungkan. Kopi, kini, bukan sekedar pemuas dahaga atau pemasok kafein, namun telah menjadi pertanda strata sosial. Jika anda masih mengonsumsi kopi "cepat saji" dan mudah diseduh, atau memperbincangkan kopi sebagai air hitam yang panas, manis, pekat, dan terutama berharga murah, maka anda tergolong sebagai orang yang tertinggal jaman sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun. Anda adalah pewaris sejati budaya mengopi serdadu PD II, generasi pelahap kafein dan kopi instant, generasi "Gelombang Pertama", The First Wave, dari evolusi konsumsi kopi.

        Apabila anda seorang pecinta kopi dan hanya mau meminum kopi arabika yang segar (fresh) yang bercita-rasa baik, maka anda telah mendekati puncak tangga dari evolusi gastronomi. Anda tergolong generasi akhir 60-an hingga pertengahan 90-an. Generasi penikmat kopi yang terbentuk dengan berdirinya Peet's Coffee & Tea di tahun 1966 dan terutama sejak lahirnya SCAA pada tahun 1982. Periode dimana kopi kemudian berkembang semakin misterius dengan seperangkat mantra Specialty Coffee, Fair Trade CoffeeOrganic CertificationShade/Bird-friendly Certification dan lain sebagainya, untuk memenuhi ekspresi tuntutan dari konsumen jenis baru, yaitu para "Cultural Creative", yang peka dan mengaitkan urusan pangan dengan transparansi produksi, ekologi dan keadilan sosial. Anda berada dalam periode aufklärung kopi, Gelombang Kedua, The Second Wave.

        Akan tetapi apabila pilihan anda bahkan lebih radikal lagi. Bersedia merogoh isi kantung dalam-dalam untuk meminum kopi yang berasal dari area geografi tertentu yang diolah dengan teknik pemrosesan tertentu. Bahkan mensyaratkan varietas, rasa spesifik serta aroma unik dan khas, serta memilih teknik brewing tertentu, maka kami mengucapkan "selamat". Anda adalah spesies terbaru dan termodern dalam evolusi konsumsi kopi. Generasi kopi "Gelombang Ketiga", The Third Wave. Kelompok paling teredukasi yang menyebut kopi bukan dengan kata sederhana "kopi", melainkan dengan takzim menggunakan kata ganti sesuai dengan nama area asal-muasal kopi, "single origin coffee". Anda mengapresiasi kopi sebagaimana laiknya connoisseur menikmati wine atau sake, tanpa tambahan gula, susu, dan creamer.  "Letting the coffee speak for itself".

        Cita-rasa (flavor) kopi adalah penjumlahan: rasa + sensasi mulut + aroma + faktor x. Hasil penelitian para ilmuwan memperlihatkan bahwa 75-95% dari apa yang kita kira sebagai "rasa" sebenarnya adalah aroma. Jadi nikmat atau tidaknya secangkir kopi, ditentukan 75 sampai 95 persen oleh faktor aroma, dikombinasikan dengan cerapan sensasi di rongga mulut (di luar lidah)  + cerapan sensasi gabungan indera lainnya serta nuansa hati dan pikiran kita. Lidah sendiri hanya dapat mencerap empat rasa dasar: manis, pahit, asam, asin. Ditambah rasa kelima: gurih atau umami.

        Kita dapat mencerap bau jika sesuatu berubah menjadi gas. Sekitar 2% dari berat kering kopi sangrai, berupa gas CO2 (karbon dioksida) dan senyawa aroma yang mudah menguap. Kesegaran kopi dengan cepat akan menurun berbanding lurus dengan besarnya kuantitas CO2 dan senyawa aroma yang lepas menguap dari biji kopi sangrai, serta memboyaknya minyak biji kopi akibat oksidasi dan kelembaban. Berapa rentang waktu kesegaran biji kopi sangrai? Puncak kesegaran biji kopi sangrai berada pada hari ke-3 atau ke-4 pasca-sangrai. Tanpa perlakuan khusus, dengan kantong kopi menggunakan katup satu arah dan kaleng yang mampu meminimalkan penetrasi oksigen, panas, cahaya dan lengas udara, setelah hari ke-8-10 secara pasti biji kopi sangrai akan kehilangan sekitar 90% dari gas CO2 dan kualitas aroma manis dari kelompok caramelfruityherbynuttychocolaty, dan spicy. Aroma dominan yang tersisa adalah kelompok earthy, dan phenolic/smoky. Kelompok aroma terakhir inilah, yang dikenali dan dianggap sebagai aroma kopi oleh kebanyakan para pengopi generasi "Gelombang Pertama". Selepas 6-8 minggu secara nyata akan muncul rasa dan bau apak (stale) pada biji kopi sangrai, dan sesudah itu bau dan rasa tengik (rancid) menjadi dominan.

        Kopi Java Qahwa lahir dalam era "Gelombang Ketiga", The Third Wave. Ada tiga kata yang dapat secara mudah untuk menggambarkan Java Qahwa, yaitu Artisan, Kesegaran (kopi) dan Kualitas. Makna dari ketiga kata tersebut jika digabungkan cukup menggunakan satu istilah: artisan specialty coffee.

        Di Java Qahwa, kami berkerja berlandas pada semangat dasar artisan coffee roaster. Kami memperhatikan setiap detil dari proses. Inilah tujuh keutamaan yang menjadi panduan kami sebagai artisan roaster:

  1. hanya memilih biji kopi dari area tertentu yang dipetik dan diproses dengan baik,
  2. menyangrai dengan penuh ketelitian, dengan memadukan ilmu pengetahuan untuk mengendalikan pemindahan panas dari mesin roaster, pemahaman tentang karakter biji kopi, dan kepekaan artisan pada tingkat warna dan sensory evaluation dari kopi,
  3. menyangrai biji kopi sesuai dengan jumlah kuantitas pesanan,
  4. menyortir ulang untuk menyingkirkan biji kopi yang berpotensi mengganggu dan merusak cita-rasa (flavor),
  5. mengevaluasi visual dan persepsi rasa untuk mewujudkan potensi karakter terroir dari specialty coffee dan gourmet coffee tersebut ,
  6. mengemas biji kopi dalam kantong-kopi berkatup searah yang dimasukkan lagi ke dalam kaleng untuk memberikan perlindungan-ganda bagi aroma dan rasa,
  7. memastikan agar pelanggan sesegera mungkin mendapatkan biji kopi yang segar.

Kami berkomitmen untuk membangun pelanggan loyal yang sangat memperhatikan cita-rasa, dengan memberikan pengalaman keindahan cita-rasa otentik tak terlupakan bagi anda yang meminum kopi Java Qahwa.

More

JAVA QAHWA COFFEE There are 4 products.

Showing 1 - 4 of 4 items
  • Rp‎ 91.000
    1 Review(s)

    The dry fragrance of Kintamani coffee opens with rustic bitter sweet chocolate character and roasted peanut as a nice backdrop for sweet spice aroma dancing over this ground coffee – pepper, dried ginger and cardamom – with coffee pulp notes. Pour hot water and the roasted peanut is still a substantial aroma with sweetness from blackcurrant and freshness...

    Rp‎ 91.000
    In stock
  • Rp‎ 91.000

    This is the classic Java, thick, rich body and very low desirable acidity, with a touch of roasted peanut, spice – cardamom, pepper and dried ginger – and bitter sweet dark chocolate in the cup. There is a slight note of fresh tobacco combined with herbaceous flavors, and a sweet tamarind note. Just clean, rich and pleasantly smooth with a long lingering...

    Rp‎ 91.000
    Add to cart
    Out of stock
  • Rp‎ 91.000

    Sidikalang coffee is one of the good characteristic examples that reflects terroir or a “taste of place” of Sumatran coffees. It exhibits a nice perfumy fragrance of roasted peanut as a backdrop with complex mixture of sweety spicy (cardamom, cinnamon), sweety camphoric (corriander seeds), anise seed and warmth of Jamaican pepper.

    Rp‎ 91.000
    Add to cart
    Out of stock
  • Rp‎ 91.000
    1 Review(s)

    The dry fragrance has bitter chocolate roast tone laced with intense pipe tobacco, Jamaica pepper, clove, cardamom and dark herbal sweetness like ricola drops. There is classic earthiness reflecting Sumatran coffees pairing well with very full-body and tangy acidity. It finishes with zesty clove, smoky, and dark caramel.

    Rp‎ 91.000
    In stock
Showing 1 - 4 of 4 items